Jika di jawa barat ada suku baduy yang seolah tak tersentuh oleh kebisingan budaya luar sukunya , di sulawesi selatan ada suku kajang yang hidup sederhana ditanah toa sebagai pelestari hutan bulukumba sulawesi selatan. Tanah toa atau tanah tua adalah mitos bahwa tanah yang mereka duduki ini tanah yang pertama kali diciptakan oleh tuhan, awalnya adalah gundukan tanah diatas air yang kemudian diyakini meluas hingga menjadi daratan dan hutan. Suku yang mendiaminya di sebut tanah tua ammatoa yang secara adat pasang ri kajang menyatakan bahwa tanah ini warisan suci dengan kesederhanaan yang selaras alamnya dan harus dipertahankan untuk generasi selanjutnya.
Warna hitam-hitam yang selalu dikenakan sebagai pakaian yang dikenakan adalah simbol setara dan kesederhanaan suku kajang gaess juga diyakini agar sealu ingat akan kematian, ini merupakan salahsatu cirikhasnya, ciri berikutnya sangat kental dengan ritual adat yang sangat mistis mereka percaya pada ammatoa pemimpin yang dihormati seumur hidupnya dan patuntung petunjuk yang benar meskipun mereka juga pemeluk agama islam. Makanya selain sama berpakaian hitam-hitam, rumah yang dibangun juga sama yaitu rumah panggung dan diharuskan menghadap kebarat agar selalu mendapatkan keberkahan. Ciri berikutnya suku kajang sangat mencitai alam sekitarnya termasuk menjaga kelestariannya, Suku kajang juga termasuk suku dinusantara yang menjunjung tinggi kehormatan ibu, dan sosok ibu harus selalu dirawat dan dijaga kediriannya gaess.
Gaess suku kajang ini termasuk suku yang tertutup pada perkembangan budaya luar baik sains maupun tehnlogi modern, juga terhadap perputaran ekonomi dunia diluar mereka bahkan dengan administrasi pemerintahan setempat, secara adminitasi menempati wilayah desa tana towa bulukumba. Secara adat mereka dibagi dua wilayah kajang dalam atau rilalang embayya ipantarang embayya . Dan di kajang luar ini masyarakat kajang luar diperbolehkan untuk mengenal dunia luar, tetapi tetap mematuhi aturan adat terutama urusan bersahabat dengan alam sama yaitu mereka tidak diperblehkan memakai alas kaki gaess. Bahasa mereka menggunakan bagian dari bahasa makasar yaitu bahasa makasar dengan dialek konjo, mereka hidup berdampingan dengan suku-suku lainnya terutama kajang luar . Kini generasi mudanya banyak yang mengenal pendidikan dan modernisasi, dengan populasi yang berkembang menurut data statistik duaribu empatbelas sekitar empatpuluh sembilan ribu jiwa mungkin sekarang di tahun duaribu duapuluh lima bertambah gaess. Suku adat kajang termasuk suku yang enggan mengikuti proses politik baik lokal maupun nasional , terlihat dari data terpantau terakhir nol koma dua persen dari jumlah hak pilihnya gaess. Tetapi info-infonya jika ada anak terbaik mereka menjadi kandidat, rupanya mereka antusias datang ke tempat coblosan gaess, terutama kajang luar yang lebih kenal dunia luar dan melek pendidikan tinggi gaess.









Komentar