Nyadran atau ruwahan bagi masyarakat jawa merupakan momentum wujud bhakti perghormatan pada leluhur keluarga besar sebelum menghadapai bulan ramadhan atau puasa atau pasa dalam bahasa jawanya gaess. Bersih-bersih rumah warisan leluahur, menjaga dan berdoa dimakam leluhur dan memohon pada tuhan agar diampuni segala kesalahannya dan mendapatkan tempat terbaik disurganya.
Malam ruwahan ini biasanya dilakukan setiap tahunnya, sepanjang tidak ada aral melintang dan keadaan masih baik-baik saja, karena biasanya seluruh anak cucu dari keturunan leluhur akan datang gaess. Makanya selain sebagai momen untuk mendoakan leluhur juga sekalian sebagai sarana silaturahmi antar anak-cucu yang sedang berkumpul dirumah atau makam leluhur. Demikian juga keluarga besar djojodigdo blitar yang mempunyai empat istri dengan keturunan tigapuluh delapan anak dan ratusan cucu, buyut serta cicit bahkan mungkin utheg-utheg dan gantung siwur hadir disana. Malam hari diadakan tahlilanuntuk mendoakan leluhur dan selamatan untuk anak cucunya. Kemudian dilanjutkan dengan macapat yang menceritakan perjalanan dan kiprah eyang djojodigdo semasa hidupnya serta pandangan dari masyarakat tentang beliau. Baru besok harinya nyekar kemakam eyang, dan ramah tamah temu kangen dan acara hiburan termasuk slow bar kopi gaess. Perjamuan kopi biasanya di pandegani oleh keturunan djoyowinoto terutama dari jember roastery dopy coffee dari keturunan eyang tar , yang mengambil biji kopi robusta dari keluarga eyang mukodo badean. Setiap tahunnya semakin gayeng semakin akrab diantara anak cucu eyang djojodigdo sekaligus nguri-uri budaya jawi ditengah jaman digital global seperti sekarang ini gaess. Saluy salam budaya. Lestari
.jpg)











Komentar