Sesajen ini dianggap oleh masyarakat sebagai persembahan dan pengingat-ingat pada leluhur, dengan beberapa uborampe atau perlengkapan dan sajian tertentu diharapkan manusia selalu ingat akan asal-usulnya gaess. Dibelahan bumi terutama di asia dan khususnya asia tenggara paling seru jika melihat sesajen. Apalagi masyarakat nusantara rasanya hampir seluruh suku nusantara ini mengenal sesajen yang mengakar dari adat tradisi jauh sebelum datangnya agama-agama gaess. Filosofinya sesajen ini bukan hanya sisi klenik atau mistis semata gaess, tetapi sebagai manifestasi perwujudan koneksitas antara manusia, alam dunia dan alam roh.
Ragam sesembahan tersebut biasanya adalah hasil bumi ataupun hasil dari karya manusia, bahkan perkembangannya pernik sesajen disamakan dengan selera manusia kekinian, hal ini sebagai bentuk bahwa mereka manusia masih dianugerahi oleh alam semesta dan akan selalu mengingat roh para leluhurnya. Di thailand juga mengenal sesajen, di india , nepal, china dan lainnya, menyajikan sesajen ini juga termasuk rutinitas keseharian atau momentumis gaess, juga bagian dari tradisi sinkritis antara tradisi dan agama. Bagaimana jaman dahulu sebelum ada agama-agama dan ilmu pengetahuan mereka lebih mengenal alam semesta makanya harmonisasi terus dijaga, dan benda-benda di alam ini diyakini mempunyai dzat ghaib yang tak kasat mata tetapi diyakini keberadaannya. Makanya sesajen ini adalah bagian dari kehidupan masyarakat asia dan sekitarnya sebagai warisan leluhur dan kearifan lokal yang secara turun temurun diyakini dan dilakukan oleh anak cucu generasi penerusnya.




Komentar