Seni jaranan semakin populer di masyarakat karena aktifitas generasi muda kini menggantikan pendahulu penggerak jaranan tersebut. Para sesepuh dan para tetua makin terbatas pergerakannya, lalu pergerakan jaranan ini di teruskan dengan cara estafet pada generasi mauda yang kebanyakan para genZ. Ternyata pergerakan GenZ dalam seni pertunjukan jaranan mempunyai metode kekinian yang cukup jitu gaess, selain pemain nya GenZ, yang mempromosikan juga genZ via media sosialnya, dan yang mengelola manajemen juga berada ditangan genZ. Lalu apakah para sesepuh sudah tidak dipakai lagi, sesepuh cukup mengawasi dan menjadi penggambuh dan melatih para penggambuh muda agar dapat mengawal sebagai pawang dalam pertunjukan jaranan. Sesepuh sudah mulai menurunkan ilmunya pada generasi muda, dengan kesadaran bahwa jaranan ini jangan sampai putus generasi penggeraknya. Dan karena pertunjukan seni jaranan ini dilakukan oleh genZ maka yang menontonnya secara otomatis akan lebih banyak genZnya gaess, sesama seangkatan mereka sama-sama merasakan kedekatan secara emosional . Mungkin saja jalinan antara pemain dan penonton mengalami simbiosis mutualisma dengan tujuan untuk menjaga melestarikan mengembangkan dan pemajuan seni tradisional termasuk jaranan ini sebagai seni budaya milik bangsa ini gaess. Keren juga strateginya, karena seni budaya jika didukung oleh masyarakatnya semakin menguatkan akar kebudayaan sebagai identitas bangsa sangat kuat.






Komentar