Sensitivitas anak muda dalam pertunjukan jaranan



Pasca pandemi masyarakat di indonesia ini seperti merindukan untuk saling bertatap muka , saling sapa dan ingin segera untuk mengadakan hiburan. Termasuk perjalanan para genZ yang terkurung dalam kegiatan online dalam proses belajar mengajar serta sosialisasinya bersama kawan. Dunia maya menjadi teman sekaligus sahabat  disetiap harinya, bisa dikatakan genZ melaluinya dengan kelebihan dan segala kekurangannya. Minusnya menjadi generasi yang nggak suka bersosialisasi, introvert dan mager, tetapi positifnya generasi ini sanat kuat berjejaring dengan sesamanya gaess. Juga mereka menguatkan literasi dan menemukan kiat-kiat menemukan sumber yang terpercaya, jadi problema hoaks dan resmi sumbernya, mereka selalu melakukan cek dan ricek setta rekomendasi jaringannya. Jadi ketika masa-masa normal para genZ merakan euforia bertatap muka dan bersosialisasi dengan riang gembira.

Salah satunya diantara mereka menemukan keberadaan seni tradisional yang mengalami ,tantangan dan kelemahan pasca pandemi , yaitu terputusnya pendapatan serta komunikasi dengan penontonya. Banyak sanggar seni jaranan yang mati suri, dan tidak banyak yang menanggap sehingga pemasukan untuk menghidupkan kembali kejayaan terasa sangat susah gaess. Salah satu ciri genZ adalah mempunyai sisi kepedulian atau respek pada eksistensi kebudayaan dan lingkungan karena mereka mendapatkan info-info dari literasi mereka kondisi dilapangan yang memprihatinkan gaess. Disinilah awal mula banyak genZ yang terlibat dalam pengembangan seni budaya terutama seni tradisional gaess. Dan hasilnya perkembangan seni tradisional termasuk jaranan kini mulai eksis dimata penontonya serta eksis di media sosial sebagai salah satu identitas budaya bangsa diantara kebudayaan bangsa-bangsa dunia. Keren ya gaess, salam  budaya .Lestari  #fotdocpunjabIG


 







 

Komentar