Secara logika dan berdasarkan hukum kemanusiaan internasional, korban
perang tidak terbatas pada tentara yang bertempur, melainkan mencakup spektrum
yang jauh lebih luas. Jadi tidak hanya yang terlibat secara langsung yaitu tentara
dari kedua belah pihak yang tewas, terluka, hilang, atau ditawan. Justru secara
logika tentara ini termasuk korban dalam kategori kecil gaess. Karena perang
modern jaman ini sangat sedikit tentara kedua belah pihak berseteru langsung berhadap-hadapan,
senjatanya sudah secanggih tekhnologi kekinian gaess ngeri banget yaa. Misalnya
cukup dengan ujung jari drone rudal
jarak jauh meluncur menuju target sasaran, dan ada juga yang menahan serangan
dengan hal serupa seperti iron dome, tetapi namanya perang tentu segalanya
sangat mungkin melenceng sepersekian derajat atau detik justru mengenai sisi
sebelah sasarannya. Bagaimana kalau rudal nuklir tersebut berdampak sistemik
agak jangka panjang, tentusaja akan menyisakan bom waktu bagi kesehatan
masyarakat sipil gaess.
Ngeri banget yaa, makanya lebih baik jangan perang, tetapi bung karno
pernah mengatakan daripada mendapatkan perdamaian abadi kita bangsa indonesia
lebih memilih untuk mempertahankan kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka
gaess. Semangat bung karno keren banget yaa gaess, dan yatanya jaman itu mampu
dijadikan sumber inspirasi anak-anak muda untuk rela berjuang demi
mempertahankan kedaulatan kemerdekaan bangsa dan negara ini gaess. Padahal semangat pemuda dengan senjata bambu runcing bisa mengusir penjajah dan sekutunya, bahkan mampu membunuh pemimpinnya, sepertinya tak masuk akal tetapi buktinya tercatat dalam sejarah kemerdekaan gaess.
Lalu siapa saja yang menjadi korban perang ini gaess. Ini adalah korban
terbesar dalam perang modern gaess. Mereka-mereka masyarakat sipil yang
berpotensi kehilangan nyawa, terluka, atau kehilangan tempat tinggal akibat
pemboman, serangan langsung, atau terjebak dalam pertempuran. Korban potensial berikutnya
adalah perempuan dan anak, elompok ini seringkali mengalami dampak yang paling
mengerikan, termasuk kematian, cacat fisik, trauma psikologis jangka panjang,
dan kehilangan orang tua menjadi yatim piatu. Perempuan juga menghadapi risiko
tinggi kekerasan seksual dan pernikahan paksa dalam jangka panjang perempuan takut untuk berkeluarga, semacam trauma bakal kehilangan yang dikasihi ketika perang membutuhkan angkatan perang. Pulang tinggal nama . Oh ya paramedis juga kelompok potensial menjadi korban berikutnya dokter, perawat, rumah sakit, dan ambulance sering menjadi
korban, baik secara tidak sengaja kerusakan karena serangan tambahan maupun
disengaja untuk memutus bantuan.Warga yang terpaksa meninggalkan rumah dan
negara mereka untuk mencari keselamatan, kehilangan mata pencaharian, dan hidup
dalam kondisi tidak layak.
Dampak perang sektor ekonomi hancur, infrastruktur rusak, mungkin juga
dampak dari serangan nuklir dan zat berbahaya dan traumatik anak-anak korban
perang seringkali dirasakan oleh generasi mendatang yang bahkan belum lahir
saat konflik terjadi. Dan ini akan menjadi memori yang akan terus
menghantui sepanjang hidupnya.




Komentar