sasingaan subang simbol perlawanan



Dimasa perjuangan merebut kemerdekaan didaerah yang di kuasai oleh penjajah yang mengkooptasi setiap gerakan rakyat, praktis kehidupan masyarakatnya tertekan dan tertindas susah bernafas apalagi untuk menyambung hidup. Semua kegiatanmasyarakat diawasi dengan ketat, bila ada yang secara frontal melawan pastilah akan ditumpas gaess. Begitulah cerita para sesepuh dahulu. Makanya dari tekanan tersebut memunculkan taktik kreatif untuk mengelabui pengawasan penjajah. Ada catatan sejarah bahwa di jawa timur muncul ludruk dari seniman tonil untuk mengelabui penjajah sehingga para pejuang mampu mengadakan pertemuan dan konsolidasi gaess, di jogja dan sekitaran jawa tengah ada dolalak sepertinya memuji kompeni tetapi sebenarnya itu kritik dan di subang jawa barat muncul sasingaan sebagai simbol sarana konsolidasi perlawanan rakyat pada penjajah. Sasingaan kini menjadi acara seni hiburan rakyat, biasa untuk menyambut tamu, perayaan hari kemerdekaan maupun untuk menjadi tradisi anak khitan atau juga menyambut anak katham al quran gaess. Dan suasana hangat meriah, anak-anak menyukainya. Sasingaan hingga saat ini masih eksis dan diminati masyarakat subang gaess karena kesadaran merawat dan melestarikannya. Salam budaya. Lestari.
 

Komentar